INILAH.COM, Jakarta - Jika kalah, Jusuf Kalla menyatakan akan pulang kampung, mengurus masjid, dan jika dibutuhkan akan mengurus perdamaian. Tim SBY-Boediono, Anas Urbaningrum, menilai Jusuf Kalla memberi sinyal akan turun dari panggung politik.
"Ya, JK pamit dari politisi plus pamit pulang kampung. Itu adalah pikiran yang mulia dan isyarat yang terang untuk pulang kampung," kata Anas mengomentari pernyataan ketiga capres pada acara debat, Jakarta, Jumat (3/7).
Ketiga capres ketika ditanya moderator apa yang akan dilakukan jika kalah dalam pilpres memberikan jawaban yang berbeda. Megawati mengatakan akan tetap berjuang untuk rakyat, SBY akan memberikan selamat dan mendukung presiden yang menang, sementara JK akan pulang kampung.
Menurut Anas, pernyataan Megawati konsisten dengan sikapnya selama ini yang enggan menyampaikan selamat kepada SBY yang mengalahkannya pada Pilpres 2004.
"Sementara SBY juga konsisten dengan pendiriannya dalam menyikapi kompetisi demokrasi. Kepada pemenang bukan saja siap memberikan ucapan selamat, tetapi bahkan siap memberikan dukungan," ujarnya.
Menurut Anas, sikap itu pernah dilakukan SBY ketika kalah dengan Hamzah Haz saat pemilihan wapres.
"Sedangkan JK sama sikapnya dengan SBY. Mungkin ini saatnya bagi JK mendukung presiden yang menang pada pilpres 2009 ini," tambahnya.
Sementara pengamat politik Bima Arya Sugiarto mengingatkan, JK walaupun mengatakan siap pulang kampung, tetapi sempat bersikeras tetap menyatakan dirinya yang terbaik.
"SBY dan JK sangat simpatik, tapi SBY yang jawabannya paling elegan karena secara lugas mengatakan akan mengajak konstituennya mendukung presiden terpilih," imbuhnya. [*/ana]
Friday, July 3, 2009
Anas Sportif Sebut JK Berpikiran Mulia
Jakarta (ANTARA News) - Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum menilai sportif Jusuf Kalla (JK) dengan menyebutnya berpikiran mulia setelah Capres Partai Golkar itu meyatakan akan pulang kampung jika kalah dalam Pilpres.
"Ya JK pamit dari politisi plus pamit pulang kampung. Itu adalah pikiran yang mulia dan isyarat yang terang untuk pulang kampung," kata Anas di Jakarta, Jumat mengomentari pernyataan ketiga capres dalam debat capres Kamis malam.
Saat ditanya moderator apa yang akan dilakukan para capres jika kalah dalam pilpres, ketiganya memberikan jawaban yang berbeda.
Megawati mengatakan akan tetap berjuang untuk rakyat, Susilo Bambang Yudhoyono akan memberikan selamat dan mendukung presiden yang menang, sedangkan Kalla akan pulang kampung.
Menurut Anas, pernyataan Megawati konsisten dengan sikapnya selama ini yang enggan menyampaikan selamat kepada SBY yang mengalahkannya pada pilpres 2004.
"Sementara SBY juga konsisten dengan pendiriannya dalam menyikapi kompetisi demokrasi. Kepada pemenang bukan saja siap memberikan ucapan selamat, tetapi bahkan siap memberikan dukungan," katanya.
Menurut Anas, sikap itu pernah dilakukan SBY ketika kalah dengan Hamzah Haz saat pemilihan wapres.
"Sedangkan JK sama sikapnya dengan SBY. Mungkin ini saatnya bagi JK mendukung presiden yang menang pada pilpres 2009 ini," katanya.
Sementara pengamat politik Bima Arya Sugiarto mengatakan JK walaupun mengatakan siap pulang kampung, tetapi sempat bersikeras tetap menyatakan dirinya yang terbaik.
"SBY dan JK sangat simpatik, tapi SBY yang jawabannya paling elegan karena secara lugas mengatakan akan mengajak konstituennya mendukung presiden terpilih," katanya.
"Ya JK pamit dari politisi plus pamit pulang kampung. Itu adalah pikiran yang mulia dan isyarat yang terang untuk pulang kampung," kata Anas di Jakarta, Jumat mengomentari pernyataan ketiga capres dalam debat capres Kamis malam.
Saat ditanya moderator apa yang akan dilakukan para capres jika kalah dalam pilpres, ketiganya memberikan jawaban yang berbeda.
Megawati mengatakan akan tetap berjuang untuk rakyat, Susilo Bambang Yudhoyono akan memberikan selamat dan mendukung presiden yang menang, sedangkan Kalla akan pulang kampung.
Menurut Anas, pernyataan Megawati konsisten dengan sikapnya selama ini yang enggan menyampaikan selamat kepada SBY yang mengalahkannya pada pilpres 2004.
"Sementara SBY juga konsisten dengan pendiriannya dalam menyikapi kompetisi demokrasi. Kepada pemenang bukan saja siap memberikan ucapan selamat, tetapi bahkan siap memberikan dukungan," katanya.
Menurut Anas, sikap itu pernah dilakukan SBY ketika kalah dengan Hamzah Haz saat pemilihan wapres.
"Sedangkan JK sama sikapnya dengan SBY. Mungkin ini saatnya bagi JK mendukung presiden yang menang pada pilpres 2009 ini," katanya.
Sementara pengamat politik Bima Arya Sugiarto mengatakan JK walaupun mengatakan siap pulang kampung, tetapi sempat bersikeras tetap menyatakan dirinya yang terbaik.
"SBY dan JK sangat simpatik, tapi SBY yang jawabannya paling elegan karena secara lugas mengatakan akan mengajak konstituennya mendukung presiden terpilih," katanya.
Anas: Karakter Tiga Capres
(matanews.com) Ketua DPP PD Anas Urbaningrum mengatakan, secara umum Debat Capres tadi malam berlangsung baik dan dinamis, karena semua Capres menunjukkan penampilan terbaiknya. “Ibu Mega bicara umum, SBY rinci dan JK atraktif dan hobi menyerang,” ujar Anas di Jakarta, Jumat.
Tetapi yang menarik kata Anas, adalah tentang kalimat penyikapan tentang hasil pilpres. Menurutnya Megawati konsisten dengan sikapnya selama ini, enggan menyampaikan selamat kepada pemenang dan siap terus berjuang sebagai politisi.
Sedangkan SBY jelas Anas, juga konsisten dengan pendiriannya dalam menyikapi kompetisi demokratik. Kepada pemenang dikatakan, bukan saja memberi ucapan selamat, tetapi juga akan memberi dukungan. “Itu pernah dilakukan SBY saat kalah dari Hamzah haz dalam pemilihan wapres,” ujar Anas.
Sedangkan Jusuf kalla komentar Anas, hampir sama dengan SBY, bedanya JK belum pernah praktek. “Mungkin kesempatan JK mempraktekkannya dalam Pilpres 2009 ini. Saat yang tepat untuk mewujudkan cita-cita pulang kampung,” ungkap Anas.(*z)
Tetapi yang menarik kata Anas, adalah tentang kalimat penyikapan tentang hasil pilpres. Menurutnya Megawati konsisten dengan sikapnya selama ini, enggan menyampaikan selamat kepada pemenang dan siap terus berjuang sebagai politisi.
Sedangkan SBY jelas Anas, juga konsisten dengan pendiriannya dalam menyikapi kompetisi demokratik. Kepada pemenang dikatakan, bukan saja memberi ucapan selamat, tetapi juga akan memberi dukungan. “Itu pernah dilakukan SBY saat kalah dari Hamzah haz dalam pemilihan wapres,” ujar Anas.
Sedangkan Jusuf kalla komentar Anas, hampir sama dengan SBY, bedanya JK belum pernah praktek. “Mungkin kesempatan JK mempraktekkannya dalam Pilpres 2009 ini. Saat yang tepat untuk mewujudkan cita-cita pulang kampung,” ungkap Anas.(*z)
Anas: Berlebihan, Anggap Pernyataan Andi Rasialis
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua DPP Bidang Politik Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan, terlalu berlebihan jika menganggap pernyataan Andi Alfian Mallarangeng, "belum saatnya orang Bugis jadi presiden", merupakan pernyataan yang rasialis. Pernyataan itu diungkapkan Andi saat kampanye di GOR Andi Mattalatta, Makassar, Rabu (1/7).
"Pernyataan itu kan tidak mengandung diskriminasi dan bermotif rasialis. Tidak ada pernyataan yang melarang orang tertentu jadi presiden, hanya belum saatnya. Kalau dianggap rasialis atau diskriminatif, itu berlebihan," kata Anas saat dihubungi Kompas.com, Jumat pagi.
Pada masa kampanye seperti saat ini, ia menilai, semua hal, termasuk pernyataan Andi dibesar-besarkan. "Ini masa kampanye. Dalam banyak hal, pernyataan biasa punya dampak politik dan dianggap menyinggung," ujarnya.
Secara substansi, menurut Anas, pernyataan itu bisa dipandang rasialis jika ada kata-kata "melarang" etnis tertentu menjadi pemimpin bangsa. "Pernyataannya kan belum waktunya, bukan tidak boleh dan tidak pantas. Namun, kalau ada yang tersinggung, kami minta maaf," kata Anas.
Pernyataan Andi, kemarin, sempat memancing respons dari forum rektor Sulawesi Selatan yang menilai pernyataan tersebut mendiskreditkan etnis tertentu. Sementara itu, seusai debat capres, capres Jusuf Kalla yang beretnis Bugis menyatakan tidak boleh ada rasialis dan menegaskan siapa pun boleh menjadi pemimpin.
"Pernyataan itu kan tidak mengandung diskriminasi dan bermotif rasialis. Tidak ada pernyataan yang melarang orang tertentu jadi presiden, hanya belum saatnya. Kalau dianggap rasialis atau diskriminatif, itu berlebihan," kata Anas saat dihubungi Kompas.com, Jumat pagi.
Pada masa kampanye seperti saat ini, ia menilai, semua hal, termasuk pernyataan Andi dibesar-besarkan. "Ini masa kampanye. Dalam banyak hal, pernyataan biasa punya dampak politik dan dianggap menyinggung," ujarnya.
Secara substansi, menurut Anas, pernyataan itu bisa dipandang rasialis jika ada kata-kata "melarang" etnis tertentu menjadi pemimpin bangsa. "Pernyataannya kan belum waktunya, bukan tidak boleh dan tidak pantas. Namun, kalau ada yang tersinggung, kami minta maaf," kata Anas.
Pernyataan Andi, kemarin, sempat memancing respons dari forum rektor Sulawesi Selatan yang menilai pernyataan tersebut mendiskreditkan etnis tertentu. Sementara itu, seusai debat capres, capres Jusuf Kalla yang beretnis Bugis menyatakan tidak boleh ada rasialis dan menegaskan siapa pun boleh menjadi pemimpin.
Wednesday, July 1, 2009
Kuasai Tema, SBY Pede Hadapi Final Debat
JAKARTA - NKRI, Demokrasi dan Otonomi Daerah menjadi tema yang dipilih Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam final debat capres 2009. Sebagai capres incumbent, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa sangat percaya diri untuk menyampaikan argumentasinya malam ini.
"Temanya sudah familiar, sudah seperti makanan sehari-hari," ujar anggota tim sukses SBY-Boediono, Anas Urbaningrum dalam pesan singkat yang diterima okezone, Kamis (2/7/2009).
Hal itu, lanjut Ketua DPP Partai Demokrat itu, dikarenakan selama lima tahun ini pemerintahan SBY telah menjalankan dan memajukan demokrasi dan otonomi daerah dalam kerangka NKRI.
"SBY juga punya agenda dan program aksi yang jelas untuk makin memajukan untuk lima tahun yang akan datang," paparnya.
Seperti diketahui, debat capres malam ini merupakan akhir dari rangkaian tiga kali debat capres dan dua kali debat cawapres yang digelar KPU. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Prof Dr Pratikno akan memandu jalannya debat yang akan disiarkan langsung oleh RCTI itu.
Debat dilaksanakan sesuai amanat Undang-undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu.
(lam)
"Temanya sudah familiar, sudah seperti makanan sehari-hari," ujar anggota tim sukses SBY-Boediono, Anas Urbaningrum dalam pesan singkat yang diterima okezone, Kamis (2/7/2009).
Hal itu, lanjut Ketua DPP Partai Demokrat itu, dikarenakan selama lima tahun ini pemerintahan SBY telah menjalankan dan memajukan demokrasi dan otonomi daerah dalam kerangka NKRI.
"SBY juga punya agenda dan program aksi yang jelas untuk makin memajukan untuk lima tahun yang akan datang," paparnya.
Seperti diketahui, debat capres malam ini merupakan akhir dari rangkaian tiga kali debat capres dan dua kali debat cawapres yang digelar KPU. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Prof Dr Pratikno akan memandu jalannya debat yang akan disiarkan langsung oleh RCTI itu.
Debat dilaksanakan sesuai amanat Undang-undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu.
(lam)
Debat Jilid III, SBY Akan Biasa Saja
INILAH.COM, Jakarta - Debat capres putaran terakhir akan dijalani masing-masing capres. Meski masing-masing capres telah menyiapkan strategi, namun SBY mengaku biasa saja menghadapi debat kali ini.
"Biasa-biasa saja. Tidak ada yang luar biasa," ujar singkat anggota Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono, Andi Alfian Mallarangeng kepada INILAH.COM di Jakarta, Kamis (2/7).
Andi yang juga juru bicara Kepresiden ini mengatakan, tema debat kali ini merupakan makanan sehari-sehari capres nomor urut dua itu. Karena memang dalam kesehariannya, SBY selalu menerapkan demokrasi dan otonomi daerah.
"Jadi tidak ada masalah. Pak SBY akan tampil apa adanya," kata Ketua DPP Partai Demokrat ini.
Sedangkan anggota timkamnas lainnya Anas Urbaningrum mengatakan, SBY tidak ada persiapan spesial. Tema yang diperdebatkan merupakan sesuatu yang familier. Karena selama ini SBY menjalankan dan memajukan demokrasi serta otda dalam kerangka NKRI.
"SBY juga punya agenda dan program aksi yang jelas untuk makin memajukan 5 tahun yang akan datang. SBY sudah siap sepenuhnya dan hanya disegarkan dengan diskusi kecil dengan beberapa anggota tim," terang Anas.
Dalam debat terakhir ini akan dilangsungkan di Balai Sarbini, Semanggi, Jakarta Pusat, pada pukul 19.00-21.00 WIB. Dalam debat ini yang menjadi tuan rumah adalah RCTI.
Sementara tema yang diangkat adalah 'NKRI, Demokrasi, dan Otonomi Daerah' dengan moderator Dekan Fisipol Universitas Gajah mada (UGM) Pratikno.
Sebelumnya Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary sempat mengatakan pemaparan visi-misi para kandidat akan ditiadakan. Rencana ini guna memperpanjang waktu sesi tanya jawab, dan para kandidat bisa menjelaskan program-programnya lebih dalam lagi. [jib]
"Biasa-biasa saja. Tidak ada yang luar biasa," ujar singkat anggota Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono, Andi Alfian Mallarangeng kepada INILAH.COM di Jakarta, Kamis (2/7).
Andi yang juga juru bicara Kepresiden ini mengatakan, tema debat kali ini merupakan makanan sehari-sehari capres nomor urut dua itu. Karena memang dalam kesehariannya, SBY selalu menerapkan demokrasi dan otonomi daerah.
"Jadi tidak ada masalah. Pak SBY akan tampil apa adanya," kata Ketua DPP Partai Demokrat ini.
Sedangkan anggota timkamnas lainnya Anas Urbaningrum mengatakan, SBY tidak ada persiapan spesial. Tema yang diperdebatkan merupakan sesuatu yang familier. Karena selama ini SBY menjalankan dan memajukan demokrasi serta otda dalam kerangka NKRI.
"SBY juga punya agenda dan program aksi yang jelas untuk makin memajukan 5 tahun yang akan datang. SBY sudah siap sepenuhnya dan hanya disegarkan dengan diskusi kecil dengan beberapa anggota tim," terang Anas.
Dalam debat terakhir ini akan dilangsungkan di Balai Sarbini, Semanggi, Jakarta Pusat, pada pukul 19.00-21.00 WIB. Dalam debat ini yang menjadi tuan rumah adalah RCTI.
Sementara tema yang diangkat adalah 'NKRI, Demokrasi, dan Otonomi Daerah' dengan moderator Dekan Fisipol Universitas Gajah mada (UGM) Pratikno.
Sebelumnya Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary sempat mengatakan pemaparan visi-misi para kandidat akan ditiadakan. Rencana ini guna memperpanjang waktu sesi tanya jawab, dan para kandidat bisa menjelaskan program-programnya lebih dalam lagi. [jib]
Jelang Debat Malam Ini, SBY Gelar Diskusi
VIVAnews – Kandidat presiden incumbent Susilo Bambang Yudhoyono berdiskusi dengan anggota tim kampanye nasional untuk persiapan mengikuti program Debat Calon Presiden putaran terakhir, Kamis 2 Juli 2009, pukul 19.00.
“SBY sudah siap sepenuhnya dan hanya disegarkan dengan diskusi kecil,” kata anggota tim kampanye nasional pasangan kandidat presiden dan wakil presiden, SBY dan Boediono, Anas Urbaningrum.
Debat malam ini bertema Negara Kesatuan Republik Indonesia, Demokrasi, dan Otonomi Daerah, dengan moderator Dekan Fisipol UGM, Pratikno. Forum debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum akan ditayangkan stasiun RCTI mulai pukul 19.00 sampai 21.00.
Anas menambahkan temanya Debat Calon Presiden yang diangkat pada putaran terakhir ini sudah familiar dengan SBY.
Menurut dia, selama lima tahun ini, pemerintah SBY juga menjalankan dan memajukan demokrasi dan otonomi daerah dalam kerangka NKRI.
Selain itu, kata Anas, SBY juga mempunyai agenda dan program aksi yang konkrit untuk memajukan pembangunan lima tahun yang akan datang.
Anas menjelaskan pada dua forum debat sebelumnya, SBY juga berhasil menjelaskan gagasan dan pemikirannya tentang berbagai permasalahan mendasar bangsa Indonesia dengan baik.
Tema debat yang lalu ialah ‘Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih serta Menegakkan Supremasi Hukum' dan 'Mengentaskan Kemiskinan dan Pengangguran.
“SBY sudah siap sepenuhnya dan hanya disegarkan dengan diskusi kecil,” kata anggota tim kampanye nasional pasangan kandidat presiden dan wakil presiden, SBY dan Boediono, Anas Urbaningrum.
Debat malam ini bertema Negara Kesatuan Republik Indonesia, Demokrasi, dan Otonomi Daerah, dengan moderator Dekan Fisipol UGM, Pratikno. Forum debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum akan ditayangkan stasiun RCTI mulai pukul 19.00 sampai 21.00.
Anas menambahkan temanya Debat Calon Presiden yang diangkat pada putaran terakhir ini sudah familiar dengan SBY.
Menurut dia, selama lima tahun ini, pemerintah SBY juga menjalankan dan memajukan demokrasi dan otonomi daerah dalam kerangka NKRI.
Selain itu, kata Anas, SBY juga mempunyai agenda dan program aksi yang konkrit untuk memajukan pembangunan lima tahun yang akan datang.
Anas menjelaskan pada dua forum debat sebelumnya, SBY juga berhasil menjelaskan gagasan dan pemikirannya tentang berbagai permasalahan mendasar bangsa Indonesia dengan baik.
Tema debat yang lalu ialah ‘Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih serta Menegakkan Supremasi Hukum' dan 'Mengentaskan Kemiskinan dan Pengangguran.
Subscribe to:
Posts (Atom)