Jakarta - Sejumlah ‘sentilan’ yang SBY sampaikan di Cikeas merupakan wejangan pada kalangan internal Partai Demokrat (PD) agar berhati-hati dan strategis menjalani tahapan Pilpres 2009. Bukan untuk membalas pernyataan yang dilemparkan kubu JK atau kompetitor lain.
"Kompetisi pilpres tetap diasumsikan berjalan ketat dan sengit. Tidak boleh under estimate kepada kompetitor," jelas Ketua DPP PD Anas Urbaningrum pada detikcom, Senin (11/5/2009).
SBY selaku Ketua Dewan Pembina PD berkewajiban menjaga fighting spirit para kader dan caleg PD pasca kemenangannya dalam pemilu legislatif. Sebab tidak lama lagi seluruh jaringan di lapangan dan mesin-mesin politik yang telah terbukti efektivitasnya itu harus kembali bekerja untuk memenangkan Pilpres 2009.
"Jangan sampai para kader lengah, santai dan merasa sudah menang. Keluarga besar PD tetap harus optimis, terukur dan dibarengi ikhtiar politik sungguh-sungguh," imbuh mantan anggota KPU itu.
Praktek berkompetisi yang etis dalam spirit persaudaraan juga menjadi perhatian SBY menghadapi kampanye Pilpres 2009. Para kader PD diingatkan menjalankan kampanye yang bersih dengan mengutamakan sosialisasi kebijakan dan program pasangan capres-cawapres.
Bukan malah melakukan kampanye hitam, merendahkan dan mengejek siapa pun yang menjadi kompetitor. Sehingga suasana damai dan stabilitas semasa pileg bisa berlanjut pada masa pilrpes.
"Apa yang disampaikan SBY tadi malam di Cikeas bukan untuk menjawab pernyataan JK," tandas Anas.
( lh / nrl )
Showing posts with label Jusuf Kalla.. Show all posts
Showing posts with label Jusuf Kalla.. Show all posts
Monday, May 11, 2009
Thursday, April 23, 2009
PD Tanggapi JK Nyapres dengan 2 Hal
INILAH.COM, Jakarta – Keputusan Rapat Pimpinan Khusus (Rapimnassus) Partai Golkar yang mengajukan Jusuf Kalla sebagai calon presiden membuat terputusnya koalisi partai beringin itu dengan Partai Demokrat. Atas keputusan tersebut, PD menyampaikan dua hal.
Keputusan ini, menurut Ketua Bidang Politik DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum memberi peluang semakin kecil untuk menduetkan kembali SBY-JK. Padahal, masih banyak pihak internal di kedua partai yang sebenarnya masih ingin keduanya tidak bercerai.
"Tentang hasil Rapimnassus Golkar itu, jelasnya kami dari Demokrat menanggapinya dengan mengajukan dua hal. Pertama, PD dalam posisi menghormati keputusan Rapimnas Khusus PG itu," kata Anas, di Jakarta, Kamis (23/4) malam.
Hal itu, menurutnya, sepenuhnya merupakan keputusan internal Golkar dan PD tidak bisa melakukan campur tangan. "Kedua, PD mengajak PG untuk bersama-sama dan bersungguh-sungguh untuk menyukseskan Pemilu Presiden (Pilpres) dan mendorong perjalanan demokrasi di Indonesia menjadi makin stabil," ucap mantan anggota KPU ini.
Selain itu, lanjut Anas, pihaknya mengajak Golkar terus mendorong suatu proses demokrasi. Termasuk melalui pilpres yang produktif bagi kesejahteraan rakyat. [*/nuz]
Keputusan ini, menurut Ketua Bidang Politik DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum memberi peluang semakin kecil untuk menduetkan kembali SBY-JK. Padahal, masih banyak pihak internal di kedua partai yang sebenarnya masih ingin keduanya tidak bercerai.
"Tentang hasil Rapimnassus Golkar itu, jelasnya kami dari Demokrat menanggapinya dengan mengajukan dua hal. Pertama, PD dalam posisi menghormati keputusan Rapimnas Khusus PG itu," kata Anas, di Jakarta, Kamis (23/4) malam.
Hal itu, menurutnya, sepenuhnya merupakan keputusan internal Golkar dan PD tidak bisa melakukan campur tangan. "Kedua, PD mengajak PG untuk bersama-sama dan bersungguh-sungguh untuk menyukseskan Pemilu Presiden (Pilpres) dan mendorong perjalanan demokrasi di Indonesia menjadi makin stabil," ucap mantan anggota KPU ini.
Selain itu, lanjut Anas, pihaknya mengajak Golkar terus mendorong suatu proses demokrasi. Termasuk melalui pilpres yang produktif bagi kesejahteraan rakyat. [*/nuz]
Labels:
ANAS URBANINGRUM,
demokrat.,
Jusuf Kalla.
Sunday, March 29, 2009
Demokrat Rangkul Golkar, Asal Capresnya Tetap SBY
(republika.co.id) JAKARTA -- Partai Demokrat masih membuka pintu untuk bergandengan tangan dengan Partai Golkar. Meski Partai Golkar sudah menggadang-gadan Jusuf Kalla sebagai capresnya usai Pemilu Legislatif 2009. Kemungkinan Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla bersanding kembali masih ada.
Ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, Ahad (29/3) menjelaskan ada sejumlah alasan mengapa Demokrat masih ingin menggandeng Golkar. Ia menyebut Golkar sebagai parpol sahabat.
Pertama, Demokrat menjalankan politik pintu terbuka. ''Pintu kami masih terbuka termasuk dengan Golkar. Karena Golkar adalah salah satu parpol sahabat yang sekarang menjadi mitra koalisi,'' kata Anas pada Republika.
Alasan kedua, Demokrat menilai pencalonan Jusuf Kalla belum final. Ini mengacu pada hasil Rapimnas IV Golkar 2008 dan pernyataan sejumlah elit partai berlambang pohon beringin itu. Kalau penetapan capres Golkar harus melewati mekanisme Rapimsus yang digelar pertengahan April 2009.''Golkar belum resmi menetapkan pasangan capres/cawapresnya. Jadi kemungkinan untuk melanjutkan kemitraan politik masih terbuka,'' katanya.
Namun kembali lengketnya Demokrat - Golkar bukan tanpa syarat. Anas mengajukan syarat utama koalisi itu. Selain mencari parpol untuk sejalan haluan untuk membangun koalisi kuat, permanen, dan bervisi serta konsisten.''Demokrat ingin parpol yang berkoalisi setuju mencapreskan SBY,'' pungkasnya. evy/kpo
Ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, Ahad (29/3) menjelaskan ada sejumlah alasan mengapa Demokrat masih ingin menggandeng Golkar. Ia menyebut Golkar sebagai parpol sahabat.
Pertama, Demokrat menjalankan politik pintu terbuka. ''Pintu kami masih terbuka termasuk dengan Golkar. Karena Golkar adalah salah satu parpol sahabat yang sekarang menjadi mitra koalisi,'' kata Anas pada Republika.
Alasan kedua, Demokrat menilai pencalonan Jusuf Kalla belum final. Ini mengacu pada hasil Rapimnas IV Golkar 2008 dan pernyataan sejumlah elit partai berlambang pohon beringin itu. Kalau penetapan capres Golkar harus melewati mekanisme Rapimsus yang digelar pertengahan April 2009.''Golkar belum resmi menetapkan pasangan capres/cawapresnya. Jadi kemungkinan untuk melanjutkan kemitraan politik masih terbuka,'' katanya.
Namun kembali lengketnya Demokrat - Golkar bukan tanpa syarat. Anas mengajukan syarat utama koalisi itu. Selain mencari parpol untuk sejalan haluan untuk membangun koalisi kuat, permanen, dan bervisi serta konsisten.''Demokrat ingin parpol yang berkoalisi setuju mencapreskan SBY,'' pungkasnya. evy/kpo
Labels:
ANAS URBANINGRUM,
Golkar,
Jusuf Kalla.,
PARTAI DEMOKRAT,
SBY
Monday, March 16, 2009
SBY Masih Cinta JK?
INILAH.COM, Jakarta - Manuver Ketua Umum DPP Golkar Jusuf Kalla beberapa waktu terakhir memancing spekulasi bakal pisah dengan SBY. Namun SBY menegaskan belum memutuskan hubungan dengan JK. Inikah sinyal SBY diam-diam masih menaruh harap dengan JK?
Dalam pertemuan dengan pers di kediaman pribadi di Cikeas, Minggu (15/3) Presiden SBY menepis anggapan yang beredar selama ini, bahwa dirinya dan Partai Demokrat meninggalkan JK. "Tidak tepat dan keliru saya meninggalkan Pak Jusuf Kalla. Saya tidak mengatakan demikian," tegasnya.
Capres dari Partai Demokrat ini menegaskan arah politik ke depan mengalir saja karena semua menunggu peta politik pasca pemilu legislatif. "Mengalir saja ke depan, seperti apa peta politik pasca pemilu legislatif, termasuk pasang memasang capres-cawapres," tandasnya.
Anggapan publik perihal pisahnya SBY-JK dalam koalisi jilid II mengemuka ke permukaan saat Rapimnas Partai Demokrat awal Februari lalu yang tidak menyebutkan siapa pendamping SBY.
Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari menilai dengan tidak disebutnya nama Jusuf Kalla sebagai cawapres SBY seperti menegaskan Partai Demokrat tak memakai JK lagi dan Golkar. "Itu sama saja menggantung nasib JK dan Partai Golkar," kata Qodari kala itu, merespon keputusan Rapimnas Partai Demokrat awal bulan lalu.
Selanjutnya bisa ditebak, DPD I Partai Golkar se-Indonesia meminta kesediaan JK untuk menjadi capres dari Partai Golkar. Gayung bersambut, JK siap menjadi capres dari Partai Golkar. Termasuk membuat serangkaian manuver politik dengan melakukan pertemuan politik dengan PKS, PPP, dan PDI Perjuangan.
Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Rully Chairul Azwar menegaskan, dukungan DPD I Golkar terhadap JK adalah realitas politik di internal Golkar. "Keputusan dukungan DPD I Golkar adalah realitas politik. Itu sama sekali bukan indikasi JK meninggalkan SBY," jelasnya Minggu (15/3) malam.
Dengan demikian, sambung Rully, secara prinsip SBY dan JK tidak ada yang meninggalkan dan ditinggalkan, yang terjadi hanyalah realitas politik di internal Golkar. "Itupun masih melalui Rapimnasus pasca pemilu legislatif setelah melalui proses penjaringan capres Golkar," paparnya.
Sementara Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menegaskan pernyataan SBY tentang cawapresnya adalah bentuk komitmen etis tentang kebersamaan. "Bahwa kerjasama haruslah sejati dan otentik, serta dijalankan dengan komitmen penuh dan sampai tuntas," katanya.
Soal capres/cawapres Partai Demokrat, menurut Anas, SBY menegaskan bahwa capres dan cawapres adalah produk politik pasca pemilu legislatif yang menegaskan pendirian PD dan SBY tentang pilpres. "Pileg (pemilu legislatif) adalah etape pertama yang mesti dilewati, sebelum bicara koalisi pilpres," kata Anas.
Terkait dengan rumor Jusuf Kalla dan Partai Golkar ditinggalkan SBY dan Partai Demokrat, menurut Anas SBY tidak pernah menunjukkan sikap hendak mencari cawapres selain JK. Juga belum pernah menyatakan pasti menggandeng JK kembali.
"Sejatinya SBY menjalankan politik pintu terbuka. Namun, yang ada justru JK makin aktif melakukan gerakan untuk menjauhi PD dan SBY, meskipun juga belum dapat dikatakan meninggalkan," paparnya.
Yang terpenting, lanjut Anas, bagaimana SBY-JK menunaikan tugas dengan tuntas dan khusnul khatimah. "Apakah akan kembali berduet, kita tunggu perputaran roda politik pasca pileg, ketika semua parpol sudah bertemu dengan realitas politik hasil pileg dan angka elektabilitas masing-masing capres," pungkasnya. [E1]
Dalam pertemuan dengan pers di kediaman pribadi di Cikeas, Minggu (15/3) Presiden SBY menepis anggapan yang beredar selama ini, bahwa dirinya dan Partai Demokrat meninggalkan JK. "Tidak tepat dan keliru saya meninggalkan Pak Jusuf Kalla. Saya tidak mengatakan demikian," tegasnya.
Capres dari Partai Demokrat ini menegaskan arah politik ke depan mengalir saja karena semua menunggu peta politik pasca pemilu legislatif. "Mengalir saja ke depan, seperti apa peta politik pasca pemilu legislatif, termasuk pasang memasang capres-cawapres," tandasnya.
Anggapan publik perihal pisahnya SBY-JK dalam koalisi jilid II mengemuka ke permukaan saat Rapimnas Partai Demokrat awal Februari lalu yang tidak menyebutkan siapa pendamping SBY.
Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari menilai dengan tidak disebutnya nama Jusuf Kalla sebagai cawapres SBY seperti menegaskan Partai Demokrat tak memakai JK lagi dan Golkar. "Itu sama saja menggantung nasib JK dan Partai Golkar," kata Qodari kala itu, merespon keputusan Rapimnas Partai Demokrat awal bulan lalu.
Selanjutnya bisa ditebak, DPD I Partai Golkar se-Indonesia meminta kesediaan JK untuk menjadi capres dari Partai Golkar. Gayung bersambut, JK siap menjadi capres dari Partai Golkar. Termasuk membuat serangkaian manuver politik dengan melakukan pertemuan politik dengan PKS, PPP, dan PDI Perjuangan.
Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Rully Chairul Azwar menegaskan, dukungan DPD I Golkar terhadap JK adalah realitas politik di internal Golkar. "Keputusan dukungan DPD I Golkar adalah realitas politik. Itu sama sekali bukan indikasi JK meninggalkan SBY," jelasnya Minggu (15/3) malam.
Dengan demikian, sambung Rully, secara prinsip SBY dan JK tidak ada yang meninggalkan dan ditinggalkan, yang terjadi hanyalah realitas politik di internal Golkar. "Itupun masih melalui Rapimnasus pasca pemilu legislatif setelah melalui proses penjaringan capres Golkar," paparnya.
Sementara Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menegaskan pernyataan SBY tentang cawapresnya adalah bentuk komitmen etis tentang kebersamaan. "Bahwa kerjasama haruslah sejati dan otentik, serta dijalankan dengan komitmen penuh dan sampai tuntas," katanya.
Soal capres/cawapres Partai Demokrat, menurut Anas, SBY menegaskan bahwa capres dan cawapres adalah produk politik pasca pemilu legislatif yang menegaskan pendirian PD dan SBY tentang pilpres. "Pileg (pemilu legislatif) adalah etape pertama yang mesti dilewati, sebelum bicara koalisi pilpres," kata Anas.
Terkait dengan rumor Jusuf Kalla dan Partai Golkar ditinggalkan SBY dan Partai Demokrat, menurut Anas SBY tidak pernah menunjukkan sikap hendak mencari cawapres selain JK. Juga belum pernah menyatakan pasti menggandeng JK kembali.
"Sejatinya SBY menjalankan politik pintu terbuka. Namun, yang ada justru JK makin aktif melakukan gerakan untuk menjauhi PD dan SBY, meskipun juga belum dapat dikatakan meninggalkan," paparnya.
Yang terpenting, lanjut Anas, bagaimana SBY-JK menunaikan tugas dengan tuntas dan khusnul khatimah. "Apakah akan kembali berduet, kita tunggu perputaran roda politik pasca pileg, ketika semua parpol sudah bertemu dengan realitas politik hasil pileg dan angka elektabilitas masing-masing capres," pungkasnya. [E1]
Subscribe to:
Posts (Atom)